KEGIATAN SEMINAR KEDOKTERAN PERINGATAN HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA DAN MENJELANG HARI DOKTER  TAHUN 2019 DI RSUD BANYUMAS

Kegiatan ini diadakan RSUD Banyumas sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran para dokter dan tenaga kesehatan lainnya tentang penting melakukan promosi kesehatan jiwa, upaya pencegahan bunuh diri, terapi dan evaluasi kegiatan lintas program.  Bunuh diri telah menjadi penyebab kematian remaja dan dewasa muda no. 2 terbesar setelah kecelakaan lalu lintas, melampaui kematian akibat homicide/kekerasan atau pembunuhan dari orang lain, peperangan, kematian akibat kanker dan penyakit kardio vascular. WHO mencatat setiap 40 detik terdapat kematian akibat bunuh diri. Walaupun telah dilakukan upaya pencegahan dan telah berhasil di beberapa negara, namun di beberapa negara lainnya kematian akibat bunuh diri terus meningkat. Ini artinya program pencegahan sebenarnya cukup efektif mencegah keberhasilan bunuh diri namun programnya sendiri masih belum merata dan masih perlu penyempurnaan.

  Bunuh diri di kalangan orang yang tidak terdeteksi gangguan jiwa juga kerap terjadi, beberapa profesi rentan terhadap perilaku bunuh diri seperti guru/dosen, mahasiswa, dokter, petugas farmasi, prajurit militer dan polisi serta seniman dan pekerja hiburan. Stress yang tinggi, jam kerja yang panjang, stigma pengobatan dan akses yang mudah kepada alat bantu bunuh diri membuat risiko profesi ini menjadi lebih tinggi. Faktor pemicu bunuh diri antar lain: faktor psikologis seperti depresi, kerentanan kepribadian, kurangnya ketrampilan mengelola stress; faktor keluarga seperti dukungan keluarga yang kurang, hubungan keluarga yang kurang hangat, disfungsi keluarga, riwayat bunuh diri pada keluarga; faktor lingkungan seperti masalah di sekolah/di pekerjaan, beban kerja berlebihan, tekanan teman sebaya, pelecehan, kurangnya ketrampilan bersosialisasi; faktor biologis seperti kurangnya serotonin di cairan serebro spinal yang khas pada depresi. Faktor kultural yang bisa mempengaruhi misalnya secara tradisional budaya harakiri di jepang yang memahami bunuh diri sebagai sikap kesatria. Pada masa modern ini kultural seperti film, musik yang memberi contoh dan menginspirasi perilaku bunuh diri, pemberitaan yang berlebihan atas berilaku bunuh diri yang tidak diimbangi dengan edukasi kesehatan jiwa juga dapat menjadi faktor pemicu. Belakangan ini juga ada beberapa game challenge yang memicu perilaku bunuh diri, dalam game tersebut pemain yang kalah akan didatangi tampilan gambar yang menyuruh untuk bunuh diri. Faktor protektif yang menghindari seseorang dari tindakan bunuh diri antara lain ; dukungan sosial yang baik, mekanisme koping yang adaptif,   spiritualisme, pengobatan psikiatri, kemudahan akses dalam mendapat bantuan, skrining instrument deteksi risiko bunuh diri.

Perilaku bunuh diri dapat dicegah dengan promosi kesehatan jiwa dan kerjasama seluruh elemen masyarakat. Pemerintah dapat berperan dalam registri bunuh diri, program lintas sektor, akses terapi pasien bermasalah dan melakukan bunuh diri sebaiknya tidak didiskriminasi dalam akses jaminan kesehatan. Media massa dapat berperan dalam mengurangi stigma dalam memberikan publikasi/pemberian informasi tentang peristiwa bunuh diri dan tentang orang dengan masalah kesehatan jiwa/orang dengan gangguan jiwa (ODMK/ODGJ), edukasi pencegahan dengan benar. Tenaga kesehatan dapat berperan dengan edukasi pencegahan, deteksi dini dan terapi. Para tenaga kesehatan sendiri perlu dibekali dengan ketrampilan manajemen stress dan akses untuk mengurangi stress. Di lingkungan pendidikan baik lingkungan pendidikan dasar, menengah dan tinggi perlu dilakukan  edukasi pencegahan, lingkungan sekolah ramah anak/siswa/mahasiswa, adanya teman sebaya seb…

by. dr Prama N: Ini sbnr-nya acr IDI/Tempat : Aula Radiologi Lt. 2 RSUD Banyumas/Sabtu, 12 Oktober 2019/Pk. 08.00-12.00

GALERI FOTO :

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *